Resensi Buku : Kiai Muslih Mranggen Sang Penggerak & Panutan Sejati
Judul Buku : Kiai Muslih Mranggen Sang Penggerak & Panutan Sejati
Penulis :
Drs. H. Agus Fathuddin Yusuf, MA (dan tim penyusun)
Penerbit :
Mimbar Media dan Futuhiyyah Press
Cetakan :
Cetakan pertama 2020
Tebal :
xxxvi + 396
ISBN :
978-602-52809-8-6
KH. Muslih
Abdurrahman adalah musyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang mendapat
gelar Syekhul Mursyidin dan Abul Masayikh, sebuah gelar kehormatan yang
menunjukkan ketinggian derajat mursyid tarekat. Beliau hampir mencurahkan
seluruh waktunya untuk mendidik santri, menulis kitab, dan berdzikir. Beliau
juga sangat peduli dengan kondisi bangsa dan negara serta jam’iyah Nahdlatul
Ulama (NU). Karenanya beliau dikenal sebagai ulama, pejuang dan aktifis
organisasi. (hal 61)
Sosok Kiai Haji
Muslih Abdurrahman adalah putra kedua dari KH. Abdurrahman bin Qosidil Haq
pendiri pondok Futuhiyyah yang terletak di Mranggen, Kabupaten Demak. Apabila
ditarik ke atas bertemu sebagai garis dzuriyyah Kanjeng Sunan Kalijaga,
sedangkan ibunya Nyai Hj. Shofiyyah binti Abu Mi’roj, Sapen Penggaron adalah
Dzuriyyah dari Kanjeng Sultan Fatah, Bintoro Demak. Tentang tahun kelahiran
beliau, banyak versi yang tertulis yaitu diantaranya menurut KH. Abdul Aziz
Masyhuri dalam buku “99 Kiai Kharismatik Indonesia” tertulis tahun 1908 M,
sedangkan dalam buku “Sejarah Seabad Pondok Pesantren Futuhiyyah” ditulis tahun
1908 M, Abdul Hadi Muthahar dalam buku “Syariat, Tarekat, dan
Hakikat”menuliskan kelahiran KH Muslih adalah tahun 1912 M. Versi lain dalam
buku “Futuhiyyah in Memory” tahun 1981 menulis bahwa kelahiran KH. Muslih pada
tahun 1914 M dan tahun inilah (1914 M) yang juga sesuai dengan dua kartu tanda
pengenal atas nama KH. Muslih. (hal 5-6)
Berdasarkan
latar belakang dzuriyyah keluarga seperti yang dijelaskan di atas, maka Kiai
Muslih muda mendapatkan pendidikan berbasis agama yang kuat dengan belajar di
pondok pesantren dan menimba ilmu dengan para Kiai di berbagai daerah. Sedari
belia Kiai Muslih sudah menunjukkan kemampuan belajar yang cukup bersinar
sehingga disenangi oleh para guru yang membimbingnya. Salah satu bukti adalah
ketika belajar di pondok pesantren Brumbung, asuhan KH. Ibrahim Yahya. Pada
usia 15 tahun Kiai Muslih muda diajak KH. Ibrahim Yahya untuk nderekke (mengikuti)
ibadah haji ke tanah suci.
Ketika muda KH.
Muslih termasuk pemuda yang sangat mencintai ilmu, beliau merasa selalu haus
akan ilmu terutama ilmu agama. Tercatat ada beberapa pesantren tempat beliau
menimba ilmu, diantaranya: (1) PP Patebon Kendal, Jateng, (2) PP Brumbung
Demak, Jateng, (3) PP Mangkang Semarang, Jateng, (4) PP Tanggungharjo Grobogan,
Jateng, (5) PP Sarang Rembang, Jateng, (6) PP Lasem, Jateng, (7) PP Tremas
Pacitan, Jatim, (8) PPTebuireng Jombang, Jatim, (9) PP Banten, Jabar, (10)
Belajar dengan Syekh Yasin Isa al-Fadani, Makkah, (11) Belajar dengan Sayyid
Abbas al-Alawi di Masjdil Haram (hal 24). Disela kegiatan belajar di pesantren
Kiai Muslih menyempatkan kembali ke kampung halaman, Mranggen, untuk
membesarkan madrasah yang didirikan oleh orang tua. Bahkan Kiai yang menetapkan
nama madrasah dengan nama Futuhiyyah hingga akhirnya dikenal di kalangan luas
hingga saat ini.
KH. Muslih
sangat aktif dalam menulis kitab sehingga sudah sangat banyak karya dari hasil
buah pemikiran beliau seperti kitab manaqib diantaranya: 1. Manaqib An-Nurul
Burhaniy, 2. Manqib Yawaqit al-Asani I Manaqib al-Syekh Abdul Qadir Jailani,
3. Umdatu As-Salik fi Khairi Al-Masalik,
4. Al-Futuhat Ar-Robbaniyah fi At-Thariqat Al-Qadiriyah wa An-Naqsyanbadiyah 5.
Ikilah Risalah Tuntunan Thariqah Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Juz 1-2, 6.
Wasailu Wushuli Al Abdi ila Mawlahu, 7. Inarotu Adz-Dholam fi Aqaidi Al Awam,
8. Hidayah al Wildan, 9. Dalailul al-Khoirat, 10. Nasrul Fajr Fit-Tawassuli bi
Ahli Badr, 11. Innarotu ad-Daijur wa Ad-duja fi Nadzmi Safinatin Naja, 11.
Tsamratul Qulub fi Auradi Thalaubati Ma’had Futuhiyyah Al Islamy dan
kitab-kitab lainnya.
Drs. H. Agus
Fathuddin Yusuf, MA dan tim penyusun buku biografi atau manaqib KH. Muslih
Abdurrahman telah berhasil menyajikan sebuah karya manaqib yang sangat baik.
Penyajian fragmen-fragmen perjalanan hidup KH. Muslih dengan sangat rapi dan
runtut muai dari masa muda, masa belajar, masa mengabdi dengan ditambah
ulasan-ulasnan kitab karya KH. Muslih. Tidak ketinggalan juga menceritakan
fragmen perjuangan KH. Muslih dalam ikut berjuang menjaga Negara Indonesia di
masa perang kemerdekaan dengan bergabung dengan pasukan Hizbullah Mranggen
termasuk juga diceritakan didalamnya perjuangan KH. Muslih di masa
pemberontakan PKI tahun 1965 dikisahkan secara baik.
Secara struktur atau sitematika
penulisan, buku biografi ini terbagi menjadi VIII (delapan) bab yaitu:
BAB I Dari Mranggen Hingga ke Makkah
BAB II Gagasan dan Pikiran Kiai Muslih Abdurrahman
BAB III Aktivias Politik dan Organiasi
BAB IV Bentengi NKRI Bersama Pasukan Hizbullah
BAB V Hizib dan Wirid Untuk Menumpas PKI
BAB VI Kitab-Kitab Karya Kiai Muslih
BAB VII Testimoni Dzuriyah Keluarga
BAB VIII Testimoni, Alumni, Santri dan Masyarakat
Buku ini layak
untuk dijadikan referensi bacaan agar pembaca bisa mengambil hikmah dari kisah
perjalanan hidup sosok KH. Muslih Abdurrahman Mranggen, selain itu pembaca juga
bisa meneladani pitutur dari beliau yang diselipkan di beberapa halaman khusus
seperti:
“Nak dadi wong NU, ya supaya sirah ngasi terompah”
Artinya kalau jadi orang Nahdlatul Ulama (NU)
supaya dari kepala sampai kaki, totalitas dalam pengabdian kepada NU. BBC -
Blogger Bengkah Community
***
Biodata Penulis:
Nama : Aditya Dedi
Sugiarso, S.Pd, M.M
No :
085641090490 (WA)
Alamat : Wonosekar RT
01/03, Kec. Karangawen, Kab. Demak – Jateng
Komentar
Posting Komentar